Selasa, 12 Februari 2013

URGENSI PEMBANGUNAN MRT


Setelah sempat mengalami tarik ulur, akhirnya rencana pembangunan moda transportasi massal berbasis rel yaitu Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta akan segera terwujud. Kepastian ini setelah adanya keseriusan dari Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Racjasa, berjanji untuk memberikan penjaminan terhadap proyek transportasi massal. Keseriusan ini terlihat dengan adanya koordinasi antara Hatta Radjasa dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, untuk membicarakan masalah tersebut.

Dalam pembahasan pembangunan MRT,  Menkoperekonomian menegaskan dukungan penuh terhadap kebijakan pemerintah pusat demi terealisasinya proyek besar yang selama ini mengalami hambatan. Apa pun yang akan dibangun Pemda DKI, pemerintah berharap jangan sampai proyek tersebut terkatung-katung lebih lama.

MRT Jakarta yang direncanakan terdiri dari Koridor Selatan-Utara yaitu Lebak Bulus-Kampung Bandan dan Koridor Timur-Barat masih dikaji pembangunannya. Untuk koridor Selatan-Utara, pembangunannya direncanakan dalam dua tahap. Pertama membentang sepanjang 15,7 kilometer, menghubungkan Lebak Bulus-Bundaran HI dengan 13 stasiun yang terdiri dari tujuh stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah.

Pengoperasiannya ditargetkan sekitar akhir 2016. Sedangkan tahap kedua melanjutkan jalur Selatan-Utara dari Bundaran HI-Kampung Bandan sepanjang 8,1 kilometer, yang ditargetkan beroperasi 2018.

Urgensi pembangunan MRT dilatarbelakangi permasalahan kemacetan di Jakarta. Merujuk data Kementerian Perhubungan 2012 lalu, tiap pagi hari 18 ribu kendaraan masuk ke Jakarta dari Depok, Bogor, Tangerang, serta Bekasi. Keadaan ini diperparah penjualan kendaraan bermotor yang terus mengalami peningkatan tiap tahun. Pertumbuhan penjualan mobil mencapai 12,08 persen dan motor 15,75 persen. Sedangkan penjualan truk tumbuh 8,06 persen serta bis 16,46 persen.

Fakta tersebut, bukan hanya menimbulkan kemacetan, namun menempatkan Jakarta  menjadi kota besar dengan tingkat polusi udara terburuk ketiga di dunia setelah Mexico City (Meksiko) dan Bangkok (Thailand). Penyumbang polutan terbesar adalah sektor transportasi yang mencapai 70 persen. Polutan dihasilkan oleh asap kendaraan bermotor yang jumlahnya mencapai jutaan unit

MRT Jakarta rencanannya digerakan oleh tenaga listrik sehingga tidak menimbulkan emisi CO2 diperkotaan. Berdasarkan studi tersebut, maka jelas DKI Jakarta sangat membutuhkan angkutan massal yang lebih andal seperti MRT yang dapat menjadi solusi alternatif dalam masalah transportasi bagi masyarakat yang juga ramah lingkungan.

Kenyataan ini menunjukan MRT bisa berjalan di tangan Hatta dan dieksekusi Jokowi. Hatta sebelumnya sudah membuktikan kemampuan dalam menggelar megaproyek MP3EI dan JSS, Jokowi yang selama ini dikenal menggutamakan aspirasi masyarakat. Kerjasama ini lah yang penulis harapkan mampu bersinergi dalam mengatasi permasalahan kemacetan yang berimbas pada masalah perekonomian nasional khususnya Jakarta yang mencapai Rp 68 triliun/tahun.
Sumber : http://www.beritasatu.com/blog/nasional-internasional/2131-urgensi-pembangunan-mrt.html

MOBIL LISTRIK YANG KEMAYU JUGA RAMAH MILIEU


Kita memang bangga kalau sampai Indonesia kreatif membuat Mobil Listrik. Bermula dari Mobil Esemka yang mendapat pro dan kontra opini terkait Pak Jokowi yang sangat antusias memberi semangat pada kreatifitas anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 Surakarta yang telah berhasil merakit mobil buatan negeri sendiri.

Baru-baru ini, terjadi lagi pro dan kontra opini karena Pak Dahlan Iskan mengalami “blong rem” hingga mengalami kecelakaan.  Saya ingat tahun lalu Pak Dahlan Iskan pernah memberi komitment, bahwa beliau akan menggantikan mobil yang beliau pakai dengan mobil listrik ini Kok cobanya kok malah Ferrari Pak!

Jadi kalau Pak Jokowi tentang Mobil Esemkanya karena beliau ingin memberi semangat anak-anak didik yang kreatif sedangkan Pak Dahlan Iskan, berharap milieu pemakaian BBM yang demikian marak menjadi biang keladi permasalahan di tanah air, bisa minimalnya diganti dengan system transportasi baru. Yang ramah milieu baik segi ekonomi finansial dan eko system.

Terkait dengan hal ini, saya ingin berbagi Mobil Listrik yang marak dipakai di Belanda. Untuk beberapa kota besar seperti Amsterdam, yang padat penduduknya maka solusi pemakaian mobil listrik merupakan satu-satunya ide pemerintah daerah Amsterdam untuk mengerem polusi udara karena BBM. Wah Amsterdam Centra itu bisa ciptakan kepala pusing karena polusi transportasi.

Seperti contoh mobil listrik di atas. Dimana mobil listrik dapat mencharge listrik pada tiang-tiang/pal tertentu pada tempat-tempat khusus yang telah disediakan oleh pemerintah. Pengisiannya sama seperti BBM hanya saja yang diisi bukan BBM, tetapi tenaga listrik.
Setiap merk mobil listrik memiliki tempat pengisian yang berbeda-beda. Ada yang di samping dan ada juga yang di depan dekat bagian motor.

Sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2013/01/09/mobil-listrik-yang-kemayu-juga-ramah-miliu-518043.html

RSBI ( rintisan sekolah bertaraf internasional ) DIBUBARKAN


RSBI ( Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) telah dinyatakan bubar oleh mahkamah konstitusi, karena RSBI tidak memiliki landasan yang cukup kuat. Sementara di beberapa kota banyak ditemukan sekolah bertaf internasional tersebut. Ada beberapa alasan rsbi dibubarkan :
·         Diskriminatif

RSBI menimbulkan perlakuan diskrimatif dibidang pendidikan, sehingga bertentangan dengan prinsip konstitusi. Jadi hanya anak-anak yang mampu dalam hal materi yang bisa bersekolah di RSBI, dikarenakan biaya yang dikenakan jauh lebih tinggi dengan sekolah biasa atau regular. Seharusnya memberikan perlakuan yang sama antar sekolah dan antar peserta didik apalagi sama-sama sekolah milik pemerintah.
·         Bahasa Inggris, jauh dari jati diri bangsa
Keberadaan RSBI juga dinilai menjauhkan dunia pendidikan dengan jati diri bangsa. Hal ini didasarkan pada bahasa pengantar untuk sekolah RSBI adalah bahasa asing yaitu Bahasa Inggris
Sebenarnya RSBI juga mempunyai dampak yang positif dalam dunia pendidikan. Tidak ada salahnya Indonesia memiliki Sekolah Bertaraf Internasional, supaya indonesia bisa sejajar dengan sekolah-sekolah di luar negri sana. Karena perguruan tinggi saja mempunyai word class mengapa sekolah tidak bisa ?

BANJIR, BENCANA YANG SANGAT MERUGIKAN


Sudah tidak asing lagi jika kita mendengar banjir dijakarta ini, sudah hampir setiap tahun bencana bencana musiman ini tak kunjung terselesaikan. Bertahun – tahun pemerintah terus berbenah diri untuk menyelesaikan permasalahan ini, namaun apa daya masih belum adanya perubahan yang terjadi di kota jakarta ini. Terlebih lagi masih kurangnya kesadaran dari masyarakat akan bahaya banjir yang terus menerus melanda kota ini, masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah sembarangan menjadi salah satu faktor yang sangat berperan penting akan sulitnya penanganan banjir dikota jakarta ini, terlebih lagi masih banyaknya daerah resapan air yang kini beralih fungsi menjadi pemukiman warga yang membuat makin sulitnya kota jakarta terbebas dari bencana banjir ini. Tidak hanya itu masih banyak lagi penyebab terjadinya banjir di kota jakarta yang diakibatkan oleh kurang sadarnya masyarakat akan masalah ini.

Banjir dikota jakarta ini sudah pasti akan mengalami kerugian yang sangat besar. Dari kerusakan  yang ditimbulkan oleh banjir, warga yang terserang berbagai penyakit dari banjir, dan lumpuhnya perekonomian di Jakarta, karena terhambatnya transportasi. Banyak pekerja yang terhambat menuju tempat dimana ia bekerja karena hampir seluruh jalan protokol tertutup oleh genangan air.

Dengan keadaan yang seperti ini mulai banyak kritikan terhadap pemerintah yang datangnya dari masyarakat, yang pada dasarnya masyarakat mengeluh akan benca banjir yang sudah lama tak kunjung ada jalan keluarnya. Dan sesungguhnya warga pun sudah mulai bosan dengan janji yang diberikan pemerintah tentang akan diselesaikannya masalah banjir dikota jakarta ini. Dan efeknya adalah penolakan terhadap rencana – rencana yang dibuat pemerintah. Memang banjir yang melanda kota jakarta ini sudah cukup lama bahkan terjadi sejak masa penjajahan, namun masyarakat ingin adanya perubahan dari rencana yang dilakukan pemerintah yang sudah memakan biaya sangat besar.